rel='shortcut icon'/> aryudiwai mind

TITLE-TEXT

your summary/description here ...

Free Blogger Template

Ipietoon provide free blogger template, blogger trick and tips, design resources

Mei 15, 2011

Dari Singkawang, Saya Berhenti Berkata: Yang Paling Indonesia!

Posted by aryudiwai at 13.01


Mengaku yang paling Indonesia... Saya jadi malu. Apalagi mau bicara soal nasionalisme, rasanya nyali jadi menciut! Biasanya saya paling vokal, paling lantang sampai bicara kasar bila ada kesempatan dalam forum yang mendiskusikan masalah akuisisi budaya Nusantara oleh negara tetangga. Ditengah rasa bangga dan semangat mengelola Web Dongeng Anak Nusantara bersama teman-teman kompasianer lainnya, mengumpulkan berbagai legenda Nusantara, dongeng anak, justru satu kenyataan pahit yang saya dapatkan dari sahabat putra asli Singkawang-Kalimantan Barat. Indonesia bakal kehilangan potongan sejarahnya! Kali ini yang mengadopsi bukan Malaysia, tapi Singapore! Ironisnya, sejarah yang bakal hilang itu justru yang sama sekali tak pernah ada dalam catatan sejarah Indonesia. Tragis! Bangsa yang besar ini dianggap tidak bisa memelihara sejarah, sampai-sampai negara lain yang harus mengadopsi dan membuat replika sejarah itu, dan justru sangat berhasil dalam prakteknya. Ya! Negara Singapore adalah replika dari sebuah republik pertama yang pernah ada di Asia, tepatnya di Nusantara, bahkan lebih dulu ada sebelum berdirinya Negara besar Amerika. REPUBLIK LAN FANG!



Jauh sebelum Indonesia terbentuk jadi sebuah negara, di bagian Barat Kalimantan (Borneo) telah berdiri sebuah bentuk republik, dan berhasil bertahan selama 110 tahun sebelum dihancurkan oleh penjajahan Belanda. Republik ini didirikan oleh orang China yang saat itu dikirim sebagai pekerja tambang, saat terjadi gold-rush di Borneo. Meskipun hanya dianggap sebuah dongeng sebelum tidur, realita yang ada menunjukkan banyak sekali jejak peninggalan republik ini yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat, dan sangat memprihatinkan, tak terawat! Inilah yang saya katakan sebagai IRONIS. Justru keberadaannya ramai sekali dibicarakan dalam bentuk artikel atau forum diskusi di luar negeri.

Adalah seorang Lo Fong Pak, prantau bersuku-bangsa Hakka dari negeri China berusia 34 tahun, yang berhasil mempersatukan 14 kongsi dagang yang terdiri dari berbagai golongan suku bangsa Hakka yang ada di Borneo, dan menamakannya dengan LAN FANG. Persatuan ini ditujukan untuk melindungi diri dari persengketaan, yang kerap terjadi, dan mengancam terpecah belahnya persatuan di daerah itu. Lan Fang sangat berhasil dan namanya kian masyhur, nama Lo Fong Pak menjadi identik dengan Lan Fang, dan keberhasilannya diakui oleh kesultanan di seluruh Kalimantan bagian Barat. Atas dasar persatuan kongsi dagang itu, berdirilah sebuah pemerintahan yang  dinamai persis seperti kongsi dagang itu, Lan Fang. Meski rakyat mendesak agar Lo Fong Pak menjadi sultan dan menjalankan kesultanan dalam pemerintahannya, Lo Fong Pak menolak, dan bersikukuh memilih bentuk republik, dengan sistem pemerintahan 'presidential'.

Melalui pemilihan umum akhirnya Lo Fong Pak terpilih menjadi presiden pertama Republik Lan Fang. Beribukota di Tung Ban Lit (Mandor) yang secara harafiah berati "Timur dengan selaksa konstitusi". Bendera Republik Lan Fang berbentuk segi empat berwarna kuning dengan tulisan berbahasa Mandarin "Lan Fang Ta Tong Chi". Seperti yang tertera pada tugu peringatan, Republik Lan fang berdiri pada tahun 1776, yang menjadi menarik dari keberadaan republik ini adalah, justru saat itu bentuk pemerintahan masih berupa kesultanan, dimana hukum adat masih sangat kokoh dipraktekkan. Kesultanan Bugis, Melayu dan Dayak sangat berkuasa di daerah pesisir dan daratan Kalimantan. Konsep Republik justru berhasil memperkokoh ikatan persaudaraan di daerah Kalimantan Barat.  Presiden pertama Republik Lan Fang, Lo Fong Pak wafat pada tahun 1795.



Beberapa catatan menarik tentang Republik Lan fang, antara lain:

  • Diberlakukan sistem Pemilihan umum yang pada saat itu sama sekali belum dikenal dalam iklim pemerintahan Kesultanan di wilayah Borneo.

  • Konsep Trias Politika sudah dipraktekkan, pemerintahan dijalankan dengan mengaktifkan lembaga Legislatif, Yudikatif, dan Eksekutif.

  • Republik ini telah memiliki kitab undang-undang hukum, menjalankan sistem pertanian, membangun sarana transportasi, mengatur pertambangan menjadi lebih baik, menyelenggarakan konsepperbankan, dan mengutamakan pendidikan bagi warganya.

  • Republik Lan Fang bertahan selama 110 tahun, dan telah memilih 10 orang presiden sebagai pemimpin republik.

  • Saat Republik Lanfang memasuki usia ke-47 yang dipimpin oleh presiden ke-5, Belanda telah menguasai seluruh daratan Borneo, Lan Fang mulai kehilangan hak otonomi, dan menjadi bagian dari kolonial Belanda.

  • Saat VOC membuka kantor cabang di kota Pontianak, mulailah campur tangannya menguasai Republik Lanfang, dan sempat bertahan selama 4 tahun,  akhirnya menyerah kalah. Orang-orang Republik Lan Fang banyak yang melarikan diri ke Sumatera (Malaka).


Kini beredar rumor, bahwa Negara tetangga kita, Singapore adalah Republik Lanfang Modern, replika yang sangat pas, dan berhasil mengadopsi sistem pemerintahan Lan Fang, kenapa? Konon Lee kwan Yew sang pendiri negara kecil yang makmur ini adalah seorang keturunan pendiri Lanfang yang berhasil lari ke Sumatera, berikut ini sekelumit bukti yang mengarah pada kebenaran berita tersebut:
_________________________

My family history in Singapore began with my paternal great-grandfather, Lee Bok Boon, a Hakka …… Lee Bok Boon was born in 1846 in the village of Tangxi in the Dabu prefecture of Guangdong …… My grandfather, Lee Hoon Leong – whom I addressed as Kung or “grandfather” in Chinese – was born in Singapore in 1871 …… My father was born in Semarang in 1903, in the Dutch East Indies.

Chua Kim Teng [LKY’s maternal grandfather] … was born in Singapore in 1865, into a Hokkien Chinese family that came from Malacca. … His first two wives had died and the third was my grandmother, Neo Ah Soon, a large, broad-shouldered Hakka from Pontianak in Dutch Borneo, who spoke the Hakka dialect and Indonesian Malay. (From Lee Kuan Yew, The Singapore Story: Memoirs of Lee)
_____________________
Setelah Malaysia berhasil membangun sebuah museum yang sangat mewah, lengkap dan megah yang dinamakan Museum Kerinci, tidak heran kalau sekarang Singapore sedang merampungkan sebuah museum yang tak kalah megahnya, tak kalah lengkapnya, dan akan dinamakan MUSEUM LAN FANG. Indonesia hanya boleh gigit jari! tanpa usaha apapun, tanpa upaya apapun... Bukan tidak mungkin nanti anak cucu kita belajar sejarah Nusantara harus pergi ke Singapore, ke Malaysia.. Belanda, apakah ini yang dicita-citakan? Nusantara meluas ke seluruh pelosok dunia, karena sejarahnya dimiliki negara lain. Apa bangganya bila saya kini meneriakkan kalimat YANG PALING INDONESIA ??!!

Keprihatinan yang sangat dalam adalah saya belum bisa berbuat banyak untuk Nusantara tercinta ini, saya belum mampu! tapi jauh di lubuk hati yang terdalam cinta ini tak akan pernah pudar, jadi saya akan berhenti bicara tentang nasionalisme, berhenti membicarakan cita-cita muluk tentang Nusantara. Sebagai gantinya saya akan berdoa di dalam hati saja. Semoga generasi penerus yang memimpin Indonesia datang dari orang-orang yang beriman, takut pada azab Tuhan yang mengerikan, memiliki cinta dan tanggung jawab besar terhadap Tanah Air yang kaya raya ini.

artikel ini karya @nonarray dari diskusi di twitter dgn @rbonardy

Continue Reading

Mei 01, 2011

KENAPA HARUS PUNYA ACCOUNT TWITTER ?

Posted by aryudiwai at 07.59
Kalo memang 2012 dunia akan kiamat, maka hal yang harus  segera dilakukan adalah bikin account Twitter, why?.... FYI, twitter bukan situs pertemanan, tetapi media sosial dalam bentuk mini blog yang sangar bermanfaat bagi siapa saja, asal tahu tips dan triknya. Sebagai socmed yang mengedukasi pemakainya untuk mendapat informasi secara cepat dan akurat juga sebagai media saling berbagi info sesuai bidang masing2.

Tidak ada jarak dalam twitter asal saling menghargai dan sopan, dan bebas follow dan unfollow sesuka hati sesuai kepentingan masing2. Tidak ada yang tidak mungkin dalam Twitter dan dengan twitter tingkat intelektual pemakainya akan di uji, semakin ngawur berkomentar tanpa di dukung data, apalagi menyangkut SARA maka siap2lah di serang penduduk seTwitter.......itu salah satu sisi ajaibnya twitter     .( what u twit, what u get ). Jujur aja, setelah mencoba twitter dan menguasai trik dan tips nya mungkin akan segera menutup account socmed yang lain, seperti Facebook dkk.

Dalam pergaulan dunia maya memiliki kemiripan dengan dunia nyata, Aturan-aturan dan tindakan-tindakan di dunia nyata, bisa kita praktekkan di dunia maya, apalagi jika bersentuhan dengan ranah jejaring sosial di mana kita juga berhubungan dengan banyak orang. Dalam dunia twitter, golden rules harus di terapkan layaknya dunia nyata. Beberapa hal yang perlu di ketahui dalam dunia twitter agar menjadi warganegara yang baik.

1. Retweet (RT)
Salah satu ‘kebaikan’ di Twitter ialah Retweet (RT). Anda pasti akan senang saat mengetahui follower Anda me-Retweet status Anda dan meneruskannya ke follower mereka karena dinilai bermanfaat. Lebih dari itu, ada kemungkinan juga orang lain akan mem-follow Anda sebagai si sumber informasi.

2. FollowFriday
Merekomendasikan orang untuk di-follow dalam hastag FollowFriday(#FF) termasuk dalam kebaikan Twitter. Namun melakukan #FF tidak bisa asal-asalan. Alih-alih mencantumkanserentetan nama orang, akan lebih baik jika Anda merekomendasikan user dengan deskripsi yang spesifik.

3. Reply
Mengusahakan untuk selalu membalas tweet yang ditujukan pada Anda adalah langkah yang baik di dunia per-Twitteran. Menggunakan layanan DM dibanding dengan melakukan reply malah akan lebih baik lagi karena terasa lebih personal.

4. List
Layanan List bisa mengukur seberapa kuat personality Anda dan orang-orang yang telah Anda masukkan dalam daftar tersebut. Nah jika ada follower Anda yang memasukkan Anda dalam List mereka (tentu tergantung dari title dan tujuannya), tetaplah rendah hati.

5. Perkenalan
Tak ada salahnya Anda mengenalkan orang di Twitter asalkan tujuannya baik. Ini adalah salah satu hal baik di Twitter yang bisa Anda lakukan.

6. Menjawab pertanyaan
Membantu orang lain di Twitter yang menemui kesulitan juga bisa dilakukan. Tidak sulit kok. Misalnya jika ada yang bertanya pada Anda mengenai tutorial, artikel, atau mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bidang yang Anda geluti, maka bantu mereka dengan menjawab pertanyaan mereka.

7. Follow back
Melakukan follow balik untuk setiap follower kita memang bukan hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang terutama bagi public figure yang memiliki ribuan follower. Akan tetapi aksi ini termasuk dalam kebaikan Twitter dan sebagai bentuk penghargaan bagi orang lain. Namun perlu diingat, jika Anda mem-follow seseorang lalu yang bersangkutan tidak mem-follow balik Anda, maka bukan berarti dia tidak menghargai Anda. Setiap orang mempunyai hak untuk mem-follow seseorang sesuai keinginannya.

8. Keberlanjutan
Menjaga hubungan dengan follower serta memberi mereka perhatian juga masuk dalam daftar ‘kebaikan’ di dunia Twitter.

9. Tersenyum
Memberikan senyuman bisa pula dilakukan di ranah Twitter. Sebuah senyuman meski hanya dengan ikon, akan bisa membuat hari yang terlihat buruk menjadi lebih bersinar, apalagi jika senyuman tersebut datang dari orang yang tepat. Nah, makanya jangan ragu-ragu untuk melemparkan senyuman pada follower Anda.
Continue Reading

April 23, 2011

MY NAME ULAT BULU, I"AM NOT A TERORIST

Posted by aryudiwai at 18.38
Nonton film My Name Is Khan? Tentu saja. Film bollywood ini mampu menyentuh hati dunia atas pesan moral yang coba disampaikan oleh Khan (Shah Rukh Khan) bahwa dia bukanlah seorang teroris. Cap itu sendiri otomatis melekat pada diri dan keluarganya yang kebetulan Muslim pascatragedi 11 September 2001. Padahal, Khan sama sekali tidak tahu menahu dengan peristiwa yang menewaskan lebih dari 2.000 jiwa ini. 

Tapi kok jadi cerita film ini ya? Tenang saja, SAYA hanya mencoba menerangkan latar belakang pengambilan judul tulisan ini yang dipinjam dari film My Name is Khan and I am Not a Terrorist.

Tulisan ini juga terinspirasi oleh dinamika kehidupan nasional bangsa kita yang punya musim-musim tertentu. Tidak hanya musim hujan, panas, kemarau, atau musim rambutan dan durian; negara ini juga punya musim bencana alam, musim gempa, musim longsor, musim tsunami dan musim ledakan bom. Entah disengaja atau tidak, tapi yang pasti 236 juta jiwa (sensus penduduk 2010) penduduk Indonesia sama merasakan fenomena alam di atas yang sepertinya tak kunjung berhenti.

Bila Jepang porak poranda dihantam tsunami dan ledakan PLTN di Fukhusima Jepang. Indonesia tidak mau kalah. Seakan ingin mengalihkan perhatian dunia terhadap gempa dan tsunami Jepang, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab berusaha mencari perhatian media lewat ledakan bom dengan formula baru, “Bom Buku”.
Kendati dirancang tidak untuk penghancuran total, namun dampaknya cukup dirasakan masyarakat yang menghadirkan rasa panik, kekhawatiran berlebihan dan (dampak positifnya) kewaspadaan.

Sejak 2002, Indonesia sering diancam ledakan bom mulai dari skala besar, kecil, hingga yang tak jadi meledak. Lantas, apakah setiap upaya-upaya teror (baca: perusakan) yang datang silih berganti selalu kita sebut dengan teror? Tentu setiap orang punya jawaban yang berbeda.

Perbedaan itu sendiri juga dimunculkan oleh psikolog forensik pertama Indonesia, Reza Indragiri Amriel. Di saat mayoritas rakyat negeri ini satu suara menyikapi bom buku merupakan aksi teror, beliau justru menyebutnya sebagai sebuah aksi vandalism yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna sebatas aksi perusakan saja ( KAYAK SERANGAN ULAT BULU )

Ungkapan ini agaknya ada benarnya. Kesan yang muncul saat mendengar kata teror dengan kata vandalisme ( baca ulat bulu ) juga sangat berbeda. Psikolog forensik ini menuturkan, kendati sama-sama bertujuan memberi rasa takut dan ketidaknyamanan pada orang lain, namun kasus bom buku tidak masuk dalam ranah teror yang pelakunya akan disebut teroris. 
Bom buku tidak dirancang untuk membunuh dan melukai banyak orang, melainkan hanya sebatas mencederai dan memberi rasa takut. Indikator inilah yang membuat Reza Indragiri Amriel menggolongkan bom buku sebagai aksi vandalisme ( baca ulat bulu )

Amerika Serikat sebagai negara yang punya pengalaman terburuk dalam kasus teror tidak selalu menyebut serangan terhadap rasa aman sebagai aksi teror. Seperti serangan bom yang gagal di New York Times Square 2010 lalu, presiden AS Barack Obama tidak latah menyebutnya sebagai aksi teror melainkan aksi vandalisme. Sebutan ini justru berdampak pada respons masyarakat yang merasa nyaman dan tenang pascaupaya pengeboman itu. 

Aksi vandalisme yang disebut oleh Obama telah menghilangkan rasa khawatir akan tetapi tetap waspada bagi jutaan rakyat Amerika. Pelajaran yang dapat dipetik di sini adalah, sebagai bangsa yang tak pernah berhenti belajar dari sejarah pahit dan manis, para pemimpin bangsa ini baik sipil maupun militer, orang kaya maupun rakyat jelata harus bisa mengklasifikasikan setiap keadaan sebelum mengambil kesimpulan, apakah itu tergolong aksi teror atau hanya sebatas upaya vandalisme( baca ulat bulu ).

Ketepatan mengambil kesimpulan itu jadi penting karena sangat memengaruhi langkah-langkah yang diambil masyarakat yang harapannya tidak menjadi paranoid tapi sebatas waspada dan selalu waspada.

Indonesia umumnya mudah terpengaruh pola pikir yang berkembang dewasa ini. Kasus nuklir, misalnya, Kendati dunia punya kenangan pahit atas ledakan nuklir di Hirosima-Nagasaki 1945 silam, tetapi tidak lantas menyimpulkan semua hal yang berhubungan dengan nuklir punya dampak layaknya Hirosima Nagasaki.

Ledakan nuklir 1945 Hirosima, tidaklah sama dengan ledakan nuklir di Fukhusima Jepang 2011. Begitu juga halnya dengan ledakan bom di Bali pada 2002, di kedutaan besar Australia pada 2004, dan di belahan bumi lainnya tidak bisa disamakan dengan ledakan bom buku di Utan Kayu, di rumah Dhani, atau di perumahan mewah Kota Wisata Jakarta. 

Subtansi semua kejadian itu memang memberikan rasa tidak nyaman, namun respons kita terhadap semua aksi di atas juga harus berbeda. Yang terpenting adalah antara aparat dan rakyat selalu waspada. Memang, setiap aksi melahirkan sisi positif bagi bangsa ini. Rakyat dan aparat menjadi menyatu. Aparat menjadi lebih responsif, rakyat menjadi lebih melek terhadap apa saja, dan ini harus dipertahankan. 

Sejatinya, di saat ancaman terhadap rasa aman datang, bersamaan dengan itu datang pula kewaspadaan, kepekaan, kepedulian, dan kesatuan antara rakyat dan aparat. Yang kita takutkan adalah ketika rakyat dan aparat telah sama-sama waspada, tidak lama setelah itu rakyat menurunkan tingkat kewaspadaannya dan mempercayakannya pada aparat.

Celakanya lagi, ketika rakyat telah mempercayakannya kepada aparat, mereka justru menurunkan kewaspadaannya. Hasilnya pun bisa ditebak, ketika rakyat dan aparat tak lagi kompak (baca: waspada) ancaman baru pun akan datang lagi. Ketika itu datang kita tinggal lihat apakah itu tergolong teror atau hanya vandalisme ( baca ulat bulu )

nb: mohon maaf kepada keluarga besar ulat bulu, karena menfitnah serangan ulat bulu sebagai tindakan vandalisme bukan terorisme.
Continue Reading

April 21, 2011

GEISHA BUKAN PELACUR

Posted by aryudiwai at 23.43

Geisha (芸者 “seniman”) dalam bahasa jepang adalah seniman atau penghibur tradisional (entertainer) . Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak.

Sejarah geisha dimulai dari awal pemerintahan Tokugawa, di mana Jepang memasuki masa damai dan tidak begitu disibukkan lagi dengan masalah-masalah perang. Seorang calon geisha harus menjalani pelatihan seni yang berat selagi usia dini. Berlatih alat musik petik shamizen yang membuat calon geisha harus merendam jarinya di air es. Berlatih alat musik lainnya juga seperti tetabuhan kecil hingga taiko. Berlatih seni tari yang menjadi kunci kesuksesan seorang geisha, karena geisha papan atas umumnya adalah penari, tari Topeng Noh yang sering dimainkan oleh geisha dihadirkan bagi masyarakat kelas atas berbeda segmennya dengan pertunjukkan Kabuki yang lebih disukai rakyat jelata.


Geisha juga harus berlatih seni upacara minum teh, yang pada masa medieval dianggap sama pentingnya dengan seni perang. Dan berbagai latihan berat lain yang harus dijalani. Dan latihan itu masih terus dijalani setiap geisha hingga akhir karirnya.

Seorang calon geisha sedari awal menginjakkan kakinya ke rumah barunya , sudah memiliki hutang awal sebesar biaya yang dikeluarkan pemilik Okiya untuk membelinya. Sungguh Ironis. Hutang itu terus bertambah, Karena biaya pendidikan geisha, biaya perawatan kecantikan, biaya dokter yang ditalangi oleh Okiya, nyatanya dibebankan balik sebagai hutang geisha. Geisha dengan level standar akan terus terikat hingga akhir hayatnya, berbeda dengan geisha sukses yang dapat menebus kembali kebebasannya sebelum mencapai usia 20 tahunan.

Syarat menjadi geisha sukses umumnya memiliki kakak angkat yang merupakan geisha senior sukses pula , sehingga dapat mengatrol popularitas si geisha magang. Sementara geisha senior yang sukses juga tidak mau sembarangan menerima adik angkat, karena menyangkut nama baik pula. Tetapi memiliki adik angkat yang sukses akan berarti keberuntungan pula bagi yang dirinya, seniornya dan okiya-nya, karena mereka sekian persen pendapatan si geisha muda tersebut.

Selain itu geisha muda juga harus melelang keperawanan kepada penawar tertinggi, pendapatan dari lelang yang sukses itu dapat menebus sebagian hutang geisha muda tersebut. Setelah itu mereka harus mencari danna(“suami”) sekaya mungkin, agar dapat membiayai biaya hidup geisha yang tinggi, dan juga membayari sebagian hutang-hutang geisha tersebut terhadap majikan mereka. Geisha yang sukses dalam suatu okiya akan diadopsi oleh nyonya mereka, dan menggunakan nama “keluarga” dari nyonya tersebut dan mewarisi segala kekayaan seisi rumah tersebut. Lalu meneruskan tradisi geisha.
Continue Reading

April 20, 2011

SAMURAI SPIRIT

Posted by aryudiwai at 23.01
Ini adalah gabungan dari berbagai sumber yang menjelaskan tentang restorasi meiji.. suatu pembelajaran dari Jepang yang cukup baik untuk kita renungkan dan terapkan semangatnya bagi Indonesia agar Indonesia menjadi negara yang kembali bangkit! Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dunia dalam prestasi….
Perubahan adalah sebuah keniscayaan, perubahan tidak dapat dielakkan dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya perubahan maka dapat dipastikan bahwa manusia tidak akan bertahan. Bagitu juga dengan konteksnya dalam masyarakat. Masyarakat yang tidak mau berubah tidak akan mampu menghadapi perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, yang ada mereka akan tertinggal dan terus tertinggal.

Melihat kepada keberhasilan manusia dan masyarakat Jepang yang cukup menarik perhatian umat manusia karena berbagai hal, bangsa Jepang telah membelalakkan mata dunia dengan menjadi bangsa yang pilih tanding dalam kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi. Jepang juga mampu mereformasi pendidikan secara menyeluruh yang disesuaikan dengan dunia Barat.

Keberhasilan Jepang sekarang ini tidaklah dapat dipisahkan dari kebangkitan bangsa Jepang dari keterpurukannya sebelum lahirnya era terang yang sering disebut sebagai “Restorasi Meiji”. Bangsa Jepang sebelum Restorasi Meiji adalah bangsa yang penuh carut marut konflik sosial dan konflik antar kelompok, termasuk carut marut ekonomi. Peristiwa Restorasi Meiji 1868 adalah sejarah agung manusia Jepang sesudah carut marut politik itu. Restorasi Meiji menjadi sejarah besar yang pengaruhnya begitu abadi bagi bangsa Jepang hingga saat ini.


Restorasi Meiji inilah sebagai katalis dalam kemajuan Jepang menuju negara industri maju. Keberhasilan Restorasi Meiji ini diakui dunia tidak ada bandingannya di seluruh dunia. Dalam jangka waktu hanya sekitar 30 tahunan telah berhasil membawa Jepang dari negara terisolasi, terbelakang dan tradisional menjadi negara maju yang kompetitif dengan negara-negara barat.
Restorasi Meiji ini juga telah melahirkan tokoh-tokoh yang amat berpengaruh bagi kemajuan Jepang seperti Fukuzawa Yukichi tokoh modernisasi pendidikan Jepang, Dalam era Restorasi Meiji ini ia mampu memberi pengaruh yang amat besar, yang hingga kini mampu menggerakkan masyarakat Jepang untuk mencari ilmu dan terus belajar.

Perubahan yang begitu besar bagi masyarakat Jepang ini juga tidak terlepas dari mental model manusia Jepang yang memang telah lama diwarisi dan terbentuk oleh mental Bushido atau jalan hidup samurai (kerja keras, jujur, ikuti pemimpin, tidak individualis, tidak egois, bertanggung jawab, bersih hati, harus tahu malu).

Selain itu konsistensi karakter manusia Jepang baik dirumah, sekolah maupun di masyarakat, juga berpengaruh bagi terwujudnya social order yang nampak otomatis dimiliki manusia Jepang. Realitas bangsa Jepang yang sungguh-sungguh memberikan kontribusi dan menolong manusia lainya (20% : 80%), juga memberi pengaruh bagi terbentuknya karakter manusia Jepang dengan filosofinya yang rasionalis.

Lalu bagaimana dengan bangsa Indonesia? Di kawasan Asia Tenggara, bangsa Indosesia dalam banyak hal sering dikonotasikan negatif oleh bangsa lain. Setelah lebih dari 60 tahun merdeka, dan baru-baru ini telah memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang Ke-100, masih saja jalan di tempat. Seharusnya kita melihat bangsa lain yang semakin maju seperti Jepang ini, sebagai cambuk untuk maju bukannya menjadikan Indonesia kembali ke jaman batu.....
Continue Reading
 

aryudiwai mind Copyright © 2009 Blue Glide is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Journal